SERAMBI LAMPUNG – Para pelanggan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumda) Tirta Jasa Lampung Selatan, mengeluhkan mendapatkan air bersih.
Bahkan, masyarakat di salah satu perumahan di Kelurahan Wayurang, Kecamatan Kalianda, mengaku sulit mendapatkan suplai air dari Perumda Tirta Jasa Lamsel sejak dua bulan terakhir.
Meskipun suplai air seret warga tetap dibebankan kewajiban pembayaran sebagai pelanggan Perumda Tirta Jasa Lamsel sebesar Rp80.000/bulan.
Salah seorang warga perumahan Kalianda Resident mengatakan, suplai air dari Perumda Tirta Jasa Lampung Selatan tidak mengalir secara normal sejak dua bulan terakhir. Karena kondisi tersebut, dirinya dipaksa mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hingga membeli air menggunakan jasa mobil tangki.
“Sudah berbulan-bulan air Perumda Tirta Jasa Lamsel di rumah nggak hidup. Pas hidup kecil, terus sebentar pula mengalirnya, hanya hitungan menit,” ujar Sesi, Jumat, 21 Agustus 2026.
Dia menyatakan sudah menyampaikan keluhan tersebut kepada pihak Perumda Tirta Jasa Lamsel. Namun, pihak Perumda Tirta Jasa Lamasl hanya mohon maaf dan meminta para pelanggan bersabar. Sebab, saat ini masih di musim kemarau.
“Ya kita diminta sabar. Padahal kamikan mau nyuci, masak, mandi dan lainnya,”kata wanita berjilbab itu.
Sementara itu, Direktur Perumda Tirtajasa Lampung Selatan Julianto, tidak membatah kondisi tersebut. Sebab, terganggunya suplai air untuk konsumen diketahuinya sejak Juli 2026. Hal itu lantaran debit air dari sumber mata air ke konsumen terbilang cukup rendah (kurang, red).
Kendati demikian, jelas Julianto, pihak Perumda Tirtajasa Lampung Selatan tidak mau berpasrah diri, pihaknya menggandeng PT. Urip Gumulya Semarang untuk mencari tahu dengan men-tracking kondisi rill penyebab debit air itu menurun.
Dia menyatakan dari hasil tracking tersebut diketahui jika debit air dari sumber air mencapai 30 liter/detik, namun tiba di titik kantor PDAM Lampung Selatan, hanya tunggal 10 liter/detik.
“Hasil dari tracking, diduga ada gangguan aliran air di pipa-pipa PDAM, karena termakan usia. Ada beberapa titik pipa mengalami korosi. Sehingga air merembes masuk kedalam tanah,”jelasnya.
Untuk mengatasi permasalahan, kata dia, pada jangka pendek, pihaknya berinisiatif untuk memasang Booster Pump, agar tekanan air kembali mendekati normal. Sehingga suplai air ke konsumen dapat berjalan lancar.
“Ya, mudah-mudah setelah di pasang Booster Pump ini, aliran airnya semakin kencang hingga ke kosumen,”ujarnya.
Namun, proses pemasangan Booster Pump memakan waktu yang tidak sebentar, paling tidak sekitar dua pekan. Kendati demikian, pihaknya pun menawarkan solusi lain. Itu berupa pendistribusian air bersih melalui mobil tangki.
“Silahkan melapor kalau ada pelanggan yang merasa kekurangan pasokan air, nanti kami kirim menggunakan tangki,” kata Julianto.
Disisi lain ia mengaku, kondisi badai El-nino cukup berdampak pada sumber-sumber air milik Perumda Tirta Jasa Lampung Selatan. Seperti sumber air Malvinas, yang airnya mengering karena terserap ke dalam tanah.
Lalu, untuk sumber air di Sukajadi yang selama ini mengandalkan gravitasi, juga turut mengering. Namun demikian, untuk sumber mata air Canti, masih terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
“Tapi, yang menjadi persoalan utama dan itu menjadi perhatian kita, diperlukan revitalisasi atau perbaikan pipanisasi, karena aset-aset kita sudah berusia sekitar 30 tahun. Nah, ini menjadi target jangka panjang kami,”tegasnya. (MAN)









