SERAMBI LAMPUNG – Hingga kini jabatan Sekretaris Dinas Perhubungan dan Sekdin Peternakan dan Kesehatan Hewan Lampung Selatan masih kosong. Pasca ditinggalkan pejabatnya yang kini dilantik sebagai Kepala Dishub. Begitu juga dengan jjabatan Sekdin Perhubunga kini pejabatnya telah dilantik sebagai Kepala DTPH-Bun Lamsel.
Kepala Bidang Pengembangan Pegawai BKD Lampung Selatan Ta’at Tafsiri, menyatakan untuk jabatan yang kosong kemungkinan nanti akan di isi. Namun, hingga kini belum ada arahan dari pimpinan.
“Ya, nanti akan di isi. Tapi, kami menunggu arahan dari pimpinan. Jika, sudah ada akan kami laksanakan,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama, dalam sambutanya menyatakan pelantikan bukanlah bentuk apresiasi ataupun penghargaan. Namun, hal ini awal dari tanggungjawab besar untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Tentu ini bukan hanya sebuah seremonial. Saya tidak ingin ini hanya menjadi sebuah apresiasi atau penghargaan, tetapi melahirkan tanggungjawab, melahirkan kewajiban bagaimana kondisi riil di tengah-tengah masyarakat,”ujarnya.
Egi mengatakan, seluruh penyelenggara pemerintahan, mulai dari kepala daerah, anggota DPRD hingga pejabat perangkat daerah, memperoleh amanah dari masyarakat dengan harapan mampu menghadirkan perubahan yang nyata.
Menurut dia, masyarakat menaruh ekspektasi besar terhadap pemerintah, baik untuk memperbaiki kehidupan mereka, lingkungan sekitar maupun masa depan Kabupaten Lampung Selatan.
“Mereka memiliki ekspektasi tinggi, memiliki harapan tinggi terkait masa depan, memiliki aspirasi yang ingin berubah, baik itu dirinya sendiri, lingkungannya maupun kabupaten ini,” katanya.
Egi bahkan mengajak para pejabat memaknai suasana Pasar Natar secara utuh. Aroma sampah dan aktivitas perdagangan yang mereka rasakan sebelum pelantikan, menurutnya, merupakan gambaran nyata kondisi yang setiap hari dihadapi masyarakat.
Ia menekankan, pemerintah tidak boleh menjaga jarak dengan rakyat. Sebaliknya, pemerintah harus berjalan bersama masyarakat, memahami kebutuhan, harapan, hingga kemampuan ekonomi mereka sebelum menyusun maupun menjalankan setiap kebijakan.

Egi juga mengingatkan bahwa kepastian penghasilan yang diterima aparatur sipil negara berbeda dengan kondisi para pedagang kecil yang menggantungkan rezekinya dari hasil jualan setiap hari.
“Kalau kita setiap bulan hak kita sudah pasti, gaji sudah pasti. Tapi lihat pedagang di depan kita, mereka belum tentu hari ini dapat rezeki, besok pun belum tentu. Nah, inilah yang harus menjadi nurani kita bersama, bahwa hati kita ada di mereka,” ujarnya. (MAN/Rls)









