SERAMBI LAMPUNG – Siang itu, Jumat 16 Januari 2026, Taman Masjid Agung Kalianda seolah memiliki suasana tersendiri. Di bawah rindangnya pepohonan, ditemani semilir angin yang berembus pelan, suasana tampak cair dan hangat.
Bupati Lampung Selatan duduk santai bersama sejumlah awak media. Tak ada barikade protokoler, tak pula jarak formal yang kaku. Yang hadir hanyalah obrolan ringan, senyum lepas, dan sepiring pecel sederhana yang menyatukan.
“Ayo, kita makan pecel,” ucap Bupati sambil tersenyum, memecah suasana. Ajakan itu disambut antusias para wartawan yang mendampinginya.
Dalam kesederhanaan itulah, keakraban antara pemimpin daerah dan insan pers terjalin tanpa naskah pidato, tanpa podium, tanpa sorotan berlebihan.
Sesekali, pandangan Bupati menyapu sekeliling taman Masjid Agung. Tatapannya berhenti pada sudut-sudut ruang hijau yang tampak asri, seolah tengah merangkai gagasan di benaknya.
“Nanti taman ini ingin saya ubah menjadi taman yang nyaman, tempat masyarakat bisa beristirahat dan bersantai,” tuturnya pelan namun penuh makna.
Bukan sekadar rencana memperindah ruang publik, melainkan ikhtiar menghadirkan ruang kebersamaan tempat warga bisa berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan.
Dialog santai pun mengalir ke peran media dalam pembangunan daerah. Dengan nada serius namun tetap bersahaja, Bupati menegaskan bahwa wartawan memegang posisi strategis, terutama dalam mempromosikan potensi wisata Lampung Selatan.
“Wartawan harus menjadi motor penggerak untuk menggaet wisatawan masuk ke Lampung Selatan,” ujarnya, sembari memandang Ketua PWI Lampung Selatan, Edwin Apriandi, yang duduk di sampingnya.
Menurut Bupati, kekuatan media tidak hanya terletak pada kecepatan berita, tetapi pada narasi, foto, dan cerita yang mampu membentuk citra daerah. Dari tulisan-tulisan itulah, Lampung Selatan bisa dikenal lebih luas bukan hanya sebagai wilayah administratif, tetapi sebagai destinasi yang hidup dan berkarakter.
Ia pun mendorong Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) untuk mengambil peran lebih besar sebagai ruang intelektual.
“PWI harus jadi motor untuk membuka ruang diskusi, menghadirkan narasumber yang bagus, agar lahir gagasan-gagasan berkualitas untuk daerah,” tambahnya.
Obrolan di taman itu mungkin terlihat sederhana. Namun di balik sepiring pecel dan tawa ringan, tersimpan pesan yang kuat: sinergi antara pemerintah dan pers harus dibangun di atas kepercayaan, keterbukaan, dan kesetaraan.
Di Taman Masjid Agung Kalianda, siang itu bukan sekadar pertemuan biasa. Ia menjelma menjadi sebuah cerita tentang kepemimpinan yang membumi, dan pers yang diajak berjalan seiring, bukan berhadap-hadapan, demi Lampung Selatan yang lebih hidup dan bermakna.
Redaksi SerambiLampung.com









