Serambi Lampung.com – Setahun kepemimpinan Bambang–Rafieq di Kota Metro belum menampakkan gebrakan signifikan. Pembangunan infrastruktur di Bumi Sai Wawai dinilai stagnan, sementara sejumlah persoalan dasar mulai dari jalan rusak, ancaman banjir, hingga minimnya penerangan jalan umum—masih membayangi warga.
Sejak dilantik pada 20 Februari 2025, berbagai titik jalan berlubang belum tertangani serius. Keluhan warga terus berulang, terutama di kawasan permukiman yang menjadi akses harian.
Salah satu potret yang kerap disorot berada di Jalan Bulak Sari, Kelurahan Hadimulyo Timur, Kecamatan Metro Pusat. Jalan lingkungan itu disebut dibiarkan rusak parah tanpa perbaikan berarti selama bertahun-tahun.
Darmo, warga setempat, mengaku kecewa. Menurut dia, sejak Bambang–Rafieq menjabat, Jalan Bulak Sari tak kunjung diperbaiki, meski kondisinya kian memburuk. “Aspalnya sudah tidak kelihatan, bercampur tanah dan lumpur. Harusnya segera diperbaiki. Ini sudah sekitar tiga tahunan rusaknya,” kata Darmo, Minggu, 1 Maret 2026.
Warga berharap ada pemerataan pembangunan infrastruktur, khususnya di wilayah yang dinilai terabaikan. “Sampai sekarang belum pernah ada perbaikan. Padahal jalan lingkungan lain sudah bagus. Harusnya di sini juga diperhatikan,” ujarnya.
Kondisi jalan makin memprihatinkan saat hujan turun. Permukaan menjadi licin dan tergenang air, membahayakan pengendara. Darmo menyebut, pernah ada mobil yang miring karena terperosok. “Kalau hujan deras, jalan tertutup genangan,” katanya.
Warga mendesak Pemerintah Kota Metro turun langsung meninjau kondisi tersebut dan segera melakukan pengaspalan atau perbaikan permanen. Akses Jalan Bulak Sari dinilai krusial bagi mobilitas harian masyarakat. “Kalau sudah diperbaiki, pengendara motor jadi lebih nyaman. Aktivitas warga juga lancar,” pungkas Darmo. (Dd)









