Usai Retret, Dimana Nasionalisme dan Kebangsaan PWI 

- Jurnalis

Selasa, 3 Februari 2026 - 14:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peserta Retret Persatuan Wartawan Idonesia 
(PWI).

Peserta Retret Persatuan Wartawan Idonesia (PWI).

Usai Retret, Dimana Nasionalisme dan Kebangsaan PWI 

Ditulis Oleh Muhammad, Peserta Retret PWI Bela Negara, Wakil Ketua Departemen Ekuin PWI Pusat

“Pagiiii !” teriak Komandan Latihan Retret Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Kolonel Inf Sunardi Istanto di hadapan 163 anggota organisasi wartawan tertua dan terbesar yang berasal dari berbagai daerah di Tanah Air di Aula Bela Negara Pusat Kompetensi Bela Negara (Puskombelneg) Kementerian Pertahanan, Rumpin, Bogor, 29 Januari 2026.

Yel yel itu spontan disambut peserta retret PWI dengan volume suara yang semakin meninggi di teriakan berikutnya.

“Pagi!”

“Pagi!“

“Pagi!”

“PWI Luar Biasa!”

Usai yel yel peserta retret PWI, Kolonel Inf Istanto menoleh ke arah bendera Merah Putih yang tertancap di tiang di atas podium Aula Bela Negara. “Bendera Merah Putih tidak bergerak, masih diam begitu,” ujarnya.

“Coba ulangi sekali lagi”

Yel yel ‘Pagi’ kembali digaungkan di ruang seluas sekitar 20 m2X 35 m, namun bendera Merah Putih bergeming. Ia tetap dalam posisi terjuntai diam.

“Seharusnya bendera itu bergerak,” ujar Kolonel Inf Istanto sambil tersenyum seperti ingin mengatakan bahwa semangat bela negara para peserta retret PWI kurang kuat.

Apa yang disampaikan oleh Kolonel Inf Istanto bisa jadi merupakan sindiran kepada para wartawan yang tergabung di PWI bahwa semangat bela negara, bangsa, dan tanah air mereka sudah mengendur, melempem. Padahal PWI-lah yang dalam sejarahnya merupakan tonggak utama perjuangan bangsa Indonesia dalam menegakkan kedaulatan melalui karya jurnalistiknya.

Sejarah mencatat wartawan Indonesia berjuang menegakkan kedaulatan negara, membakar semangat nasionalisme melalui pengumpulan informasi yang ditulis dengan pena dan menyebarkannya melalui media cetak stensilan yang ada saat itu, berita-berita seputar perjuangan bangsa, pernyataan proklamasi di tengah tekanan penjajah dan propaganda asing.

Baca Juga :  Pemerintah Tubaba Dorong Aktivasi IKD, Identitas Digital Pengganti e-KTP

Pers Republiken milik pribumi menjadi alat perjuangan dalam menyuarakan kemerdekaan dan memperkokoh persatuan bangsa melawan penjajah asing, membangkitkan semangat perlawanan terhadap penjajahan, sekaligus mencerdaskan bangsa.

Klimak perjuangan para kuli tinta itu dinyatakan dalam Kongres wartawan yang digelar pada 8-9 Februari 1946 di Solo yang menegaskan pers harus menjadi alat untuk mempertahankan kedaulatan negara. Jejak sejarah ini bisa dilihat di Monumen Pers Nasional yang menjadi tempat kongres yang masih berdiri tegak hingga kini.

Dalam perjalanan waktu, pers perjuangan bergeser menjadi pers industri seiring dengan mulai masuknya modal besar di dunia pers. Pemilik modal memberikan perhatian pada modernisasi pers dengan menyediakan teknologi cetak yang canggih, penyiaran berita melalui tv, radio, dan internet.

Di satu sini industrialisasi pers meningkatkan kecepatan pemberitaan, memperluas jangkauan, dan memberikan kesejahteraan lebih baik kepada para wartawan, di sini lain muncul masalah independensi, konflik kepentingan, melemahnya semangat nasionalisme, dan menjadi alat kepentingan pemilik modal.

Situasi tersebut tanpa sadar mempengaruhi mentalitas sejumlah wartawan sehingga muncul fenomena ‘wartawan amplop’, ‘bodrex’, ‘tukang pelintir’ dan lain-lain.

Melalui retret, kita disadarkan untuk kembali kepada tugas mulia seorang wartawan seperti yang dideklarasikan oleh para senior-senior di Solo 80 tahun lalu, yang juga diingatkan oleh tema pada kegiatan retret kali ini, yakni ”Memperkuat Pers yang Profesional, Berintegritas dan Berwawasan Kebangsaan untuk Ketahanan Informasi, Demokrasi, dan Keamanan Nasional”.

Perlunya meningkatkan rasa nasionalisme dan kebangsaan wartawan juga menjadi pesan penting yang disampaikan oleh Menteri Pertahanan RI Sjafie Sjamsoeddin yang turut memberikan pembekalan dalam retret PWI yang berlangsung selama empat hari itu.

Baca Juga :  28 Puskesmas di Lamsel Laksanakan Cek Kesehatan Gratis dalam Program 100 Hari Kerja Bupati

Menhan menyebut insan pers memiliki peran strategis sebagai “penjuru perang opini” yang tengah dihadapi bangsa. Wartawan dituntut selalu mengikuti perkembangan informasi agar mampu membaca potensi ancaman sejak dini dan menyiapkan langkah antisipasi.

Antisipasi tersebut, lanjut Menhan Sjafrie, harus berpijak pada kepentingan nasional dengan tujuan utama melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Tugas ini bukan semata tanggung jawab aparat pertahanan, melainkan kewajiban seluruh rakyat untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI.

Sebagai insan pers sangat diharapkan update terhadap perkembangan yang ada, tidak boleh ketinggalan informasi, mempunyai suatu antisipasi. Dimana antisipasi yang disiapkan itu harus menjaga kepentingan nasional.

”PWI ditantang untuk menjadi penjuru dari insan pers yang nasionalis dan punya wawasan kebangsaan,” ujar Menhan usai makan siang bersama dengan peserta retret.

Pesan pentingnya bela negara juga ditekankan oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pertahanan (Ka BPSDM) Mayor Jenderal TNI Ketut Gede Wetan Pastia pada saat penutupan pelatihan di pusat latihan Batalyon 13 Grup 1 Kopassus Bogor dan Kapusdiklat Bela Negara Badiklat Kemhan Brigjen TNI Ferry Trisnaputra sebagai pengelola tempat retret PWI.

Sambil menyeruput mie rasa kari ayam, oleh-oleh selama pendidikan dan latihan bela negara, dan melirik lencana Bela Negara NKRI berwarna kuning emas, saya mengingat kembali materi-materi yang disampaikan oleh para widyaiswara (pengajar) Puskombelneg dan merenung, akankah nasionalisme dan kebangsaan wartawan akan kembali bangkit setelah mengikuti retret? Jawabannya kembali kepada masing-masing peserta retret.

Follow WhatsApp Channel serambilampung.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KONI Lampung–Banten Mantapkan Sinergi Menuju PON 2032
Belajar dari Jepang, Menata Masa Depan Sampah Lampung Selatan
Pencabutan HGU SGC Tuai Kritik, Dinilai Rusak Kepercayaan Investor
Menunggu Puluhan Tahun, Warga Jati Agung Akhirnya Melintasi Jalan Harapan
Jelang HPN 2026, Puluhan Wartawan dan Sastrawan Ikuti Kemah Budaya
Motor Mahasiswa Unila Hilang di Posko KKN Hajimena, Aktivitas Pengabdian Terganggu
Empat Atlet Lampung Peraih Medali SEA Games 2025 Terima Penghargaan Kapolri
KONI Lampung Dorong Kolaborasi Media dengan RRI untuk Kemajuan Olahraga
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 21:06 WIB

KONI Lampung–Banten Mantapkan Sinergi Menuju PON 2032

Selasa, 3 Februari 2026 - 14:59 WIB

Usai Retret, Dimana Nasionalisme dan Kebangsaan PWI 

Selasa, 27 Januari 2026 - 16:37 WIB

Belajar dari Jepang, Menata Masa Depan Sampah Lampung Selatan

Senin, 26 Januari 2026 - 12:10 WIB

Pencabutan HGU SGC Tuai Kritik, Dinilai Rusak Kepercayaan Investor

Selasa, 20 Januari 2026 - 16:34 WIB

Menunggu Puluhan Tahun, Warga Jati Agung Akhirnya Melintasi Jalan Harapan

Berita Terbaru

Ketua Umum KONI Pusat bersama ketua KONI lampung saat pelantikan pengurus KONI Provinsi Banten (Dok KONI lampung)

Nasional

KONI Lampung–Banten Mantapkan Sinergi Menuju PON 2032

Selasa, 3 Feb 2026 - 21:06 WIB

Peserta Retret Persatuan Wartawan Idonesia 
(PWI).

Jakarta

Usai Retret, Dimana Nasionalisme dan Kebangsaan PWI 

Selasa, 3 Feb 2026 - 14:59 WIB

Poto: KONI lampung saat gelar rapat jelang Porprov 2026
 ( Dok KONI Lampung).

Bandar Lampung

KONI Lampung Mulai Panaskan Mesin Porprov X 2026

Selasa, 3 Feb 2026 - 11:37 WIB

Para jamaah haji tengah mengikut manasik haji yang dilaksanakan Kantor Kementerian Haji dan Umrah Lampung Selatan, Selasa, 3 Februari 2026. (Foto.Juwantoro)

Lampung Selatan

Kantor Kementerian Haji dan Umrah Lamsel Gelar Manasik Haji

Selasa, 3 Feb 2026 - 11:16 WIB